Lingkungan

Our Power, Our Riau: Mewujudkan Transisi Energi Berkeadilan, Tuntut Hak Rakyat dan Planet Melalui Aksi Mural Kolektif Hari Bumi

banner 160x600

riaubertuah.id

Riaubertuah, Pekanbaru - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau memperingati Hari Bumi 2026 bersama tajuk “Our Power, Our Riau: Mewujudkan Transisi Energi Berkeadilan, Pulihkan Hak Rakyat dan Planet Kita!”. Kegiatan berlangsung di Stadion Utama Riau, mulai pukul dua siang (25/04). Peserta aksi menyediakan papan kanvas untuk dilukis bersama membuat mural, juga ada kertas menggambar yang ditujukan kepada anak-anak . Peserta aksi juga beri panggung terbuka guna menggalang suara publik tentang isu transisi.

Kegiatan bertujuan untuk mengarusutamakan isu transisi energi bersih berkeadilan, menyuarakan dampak dari penggunaan energi kotor, mendorong pemahaman publik tentang kebijakan transisi energi yang lebih adil, hingga memperlihatkan bahwa orang muda berhak atas kehidupan yang sehat dan adil. Peserta kegiatan terdiri dari pengurus atau anggota WALHI Riau, Mapala Humendala FEB Universirtas Riau (Unri), Mapala Wanapalhi Universitas Sains dan Teknologi Indonesia, LPM Bahana Mahasiswa Unri, YLBHI – LBH Pekanbaru, LSM Perkumpulan Elang, LSM Paradigma, komunitas Sahabat Keadilan Antar-Generasi (Selaras), orang muda, masyarakat umum, hingga mahasiswa.

Pada sektor energi, Riau masih bergatung akan batu bara. Meski realitas di lapangan menunjukkan aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dari hulu ke hilir berpengaruh pada lingkungan. Hal ini berdampak kepada masyarakat pesisir dan kelompok rentan. Berdasarkan data penggunaan sumber energi terbaru menunjukkan persentase penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) pada 2023 menurun, bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sehingga menunjukkan bahwa Bumi Lancang Kuning ini belum memperlihatkan komitmennya untuk beralih dari energi kotor menuju energi bersih dan berkeadilan.

Melihat kondisi bumi kini dengan menyaksikan krisis iklim di depan mata, serta fenomena “Godzilla El Nino” yang bakal terjadi di tahun ini. Maka, diam bukan pilihan. Peringatan ini jadi tempat refleksi, juga mendesak pemerintah untuk lebih serius dalam mewujudkan energi bersih dan berkeadilan. Serta melibatkan seluruh elemen masyarakat dalam isu sektor energi.
Koordinator kegiatan, Imam Yoemi mengatakan bahwa kegiatan berangkat dari keadaan bumi yang tidak baik-baik saja. “Ada kerusakan di mana-mana, kerusakan iklim, dan segala macam,” ujarnya. Sebagai orang muda, dia ingin bumi masih baik di masa depan.

Bersama aksi kolektif mengajak orang banyak agar paham isu bumi. Imam juga berharap supaya anak muda dapat mengunggah kegiatan pada laman sosial media mereka. Agar menyebarkan pemahaman perihal isu transisi pada khalayak. Jadi lebih banyak orang peduli dengan isu bumi.

Ruang publik dipilih sebagai lokasi kegiatan untuk menarik perhatian orang banyak tentang isu yang diangkat, disuarakan, dan dituntut. Kata Imam, supaya orang tahu isu kerusakan lingkungan dan bumi. “Menuntut orang untuk FOMO [Fear of Missing Out], ngikutin isu-isu seperti ini. Ini kan FOMO yang baik,” ujar Imam.


Apalagi masih banyak Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Batubara, hingga penggunaan energi fosil yang tak terkendalikan. Melalui kegiatan ini, Imam mendorong transisi energi yang bersih. Namun juga harus memperhatikan masyarakat sekitar yang adil, tanpa merampas ruang hidup.

“Karena sekarang ini kita tidak membicarakan akan terjadi krisis iklim lagi, karena memang sudah terjadi. Sekarang ini kita tuntut untuk meminimalisir laju krisis iklimnya,” pungkas Imam. Krisis iklim sudah mulai dirasakan, tampak dari bencana alam yang terjadi silam.
Koordinator kegiatan itu juga mengajak agar anak muda menyuarakan isu lingkungan. “Jadi, sekarang ayo kita sama-sama bergerak, sama-sama bersuara untuk meminimalisir lajunya krisis iklim. Bahkan untuk mengembalikan bumi ini kembali bersih lagi, supaya di masa depan kita bisa tenang,” ajak Imam.

Peserta kegiatan, Sabila Dewi Purnama mengatakan kegiatan ini adalah pendekatan yang halus kepada orang yang awam akan isu lingkungan. “Jadi masyarakat pun sadar tanpa tertekan dari kegiatan-kegiatan seperti ini. Pendekatan yang menyenangkan, ini benar-benar menyenangkan sih,” tutur Bila. Padahal menurutnya, isu yang dibawa cukup dalam.
Anggota Wanapalhi itu berharap kegiatan seperti ini lebih banyak. Tak hanya sekedar membuat mural atau menggambar, sekaligus menyebarkan isu-isu lingkungan yang ada di bumi. “Apa yang sudah terjadi sama bumi ini sudah urgent [mendesak] banget lho,” tutup mahasiswi itu .

Selaras dengan Bila, Monang yang merasa kegiatan ini juga menyenangkan. Apalagi bersama orang awam dengan isu lingkungan. “Kita generasi muda, kalau bukan kita siapa lagi yang bakal merawat bumi ke depannya. Mari sama-sama menjaga bumi dengan reforestasi dan juga menanam” ujarnya.
Dia berharap agar lebih banyak yang tahu akan isu bumi. “Semoga teman-teman generasi muda lebih banyak yang peka terhadap yang terjadi di Riau sekarang. Terkhusus di bagian lingkungannya,” tutup Monang.***red/rls