Riaubertuah, PEKANBARU — Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau mencatat tingkat inflasi bulanan di wilayah tersebut mencapai 0,64 persen pada September 2026. Angka itu menempatkan Riau di peringkat ke-10 dari 38 provinsi di Indonesia dan lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 0,30 persen.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Riau, Fitri Hariyanti, mengatakan kondisi inflasi tersebut tercatat dalam pengukuran month to month (mtm). Pernyataan itu disampaikannya dalam keterangan resmi di Pekanbaru, Kamis.
“Inflasi bulanan Riau September 2026 sebesar 0,64 persen, secara tahunan (year on year) 2,79 persen, dan tahun kalender 1,84 persen,” kata Fitri.
Secara nasional, dari 38 provinsi yang menjadi cakupan penghitungan, sebanyak 36 provinsi mengalami inflasi, sedangkan dua provinsi lainnya tercatat mengalami deflasi.
Harga Cabai Merah Jadi Pemicu Utama
Fitri menjelaskan, inflasi Riau pada September 2026 tidak terlepas dari kenaikan harga sejumlah komoditas dalam beberapa kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan andil sebesar 0,28 persen terhadap inflasi bulanan Riau.
Salah satu komoditas yang paling dominan mendorong kenaikan harga adalah cabai merah. Komoditas tersebut memberikan andil sebesar 0,49 persen, dengan harga cabai merah di Pekanbaru telah mencapai sekitar Rp80 ribu per kilogram.
Selain cabai merah, beberapa komoditas lain juga ikut memberikan tekanan terhadap inflasi September.
“Komoditas utama penyebab inflasi bulan September yang memberikan andil cukup besar pertama yakni cabe merah dengan andil 0,49 persen,” jelas Fitri.
Komoditas berikutnya yakni ayam hidup dengan andil 0,05 persen, cabai rawit 0,04 persen, mobil 0,03 persen, ikan serai 0,03 persen, serta tarif pendidikan tinggi sebesar 0,02 persen.
Kenaikan sejumlah komoditas tersebut turut memengaruhi pergerakan harga konsumen di Riau selama September 2026.
Inflasi Tahunan Riau 2,79 Persen
Jika dilihat secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Riau pada September 2026 tercatat sebesar 2,79 persen. Posisi tersebut menempatkan Riau di peringkat ke-33 secara nasional.
Angka inflasi tahunan Riau tersebut masih berada di bawah inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen.
BPS juga mencatat inflasi tahunan Riau pada September 2026 lebih rendah dibandingkan kondisi pada Agustus 2026 maupun September 2025.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau kembali menjadi kelompok dengan andil terbesar, yakni 0,69 persen.
Selanjutnya, kelompok transportasi memberikan andil sebesar 0,59 persen, sedangkan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menyumbang 0,62 persen.
Emas Perhiasan hingga Bensin Ikut Mendorong Inflasi
Selain komoditas pangan, sejumlah barang dan jasa lainnya juga tercatat memberikan kontribusi terhadap inflasi tahunan Riau.
Fitri menyebut emas perhiasan menjadi komoditas dengan andil terbesar, yakni sebesar 0,50 persen.
Berikutnya terdapat daging ayam ras dengan andil kenaikan sebesar 0,21 persen, bensin 0,17 persen, ayam hidup 0,13 persen, serta cabai rawit sebesar 0,12 persen.
“Untuk komoditas yang menyebabkan inflasi masih emas perhiasan sebesar 0,50 persen, daging ayam ras kenaikan andil 0,21 persen, bensin 0,17 persen, ayam hidup 0,13 persen dan, cabai rawit 0,12 persen,” ungkapnya.
Data tersebut menunjukkan tekanan inflasi di Riau pada September 2026 tidak hanya berasal dari kelompok pangan, tetapi juga dipengaruhi komoditas transportasi, kebutuhan pribadi, serta sejumlah barang lainnya.
Dengan inflasi bulanan sebesar 0,64 persen, kondisi harga di Riau pada September 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Sementara secara tahunan, inflasi Riau masih berada di bawah angka nasional sebesar 3,28 persen.***red/rfm
.png)

